Oke guys kali ini saya akan membahas tentang satu kerajaan yang ada di
indonesia, yaitu kerajaan samudra pasai, oke langsung aja ni dia :p
Kerajaan
Samudra Pasai
salehkadri.blogspot.co.id
Kerajaan Samudra Pasai adalah
kerajaan Islam di Indonesia yang muncul menggantikan Kerajaan Perlak yang
semakin mengalami kemunduran. Kemunduran Kerajaan Perlak terjadi karena
ketidakstabilan pemerintahan akibat persaingan antar anggota keluarga kerajaan
sehingga para pedagang banyak mengarahkan kegiatannya ke tempat lain, yakni ke
Pasai.
Seorang
penguasa lokal di daerah Samudera bernama Marah Silu (Meurah Silu) dibantu oleh
Syekh Ismail (seorang syarif dari Mekkah) berhasil mempersatukan daerah
Samudera dan Pasai. Kedua daerah tersebut kemudian dijadikan sebuah kerajaan
dengan nama Samudera Pasai.
Kehidupan politik Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan
Samudera Pasai terletak di Kabupaten Lhoukseumawe, Aceh Utara dengan raja
pertama Marah Silu yang bergelar Sultan Malik Al-Saleh (1285 – 1297 M). Malik
Al-Saleh memperistri putri penguasa Perlak sebagai permaisuri, yaitu Putri
Ganggang Sari (Putri Raihani).
Pada masa
pemerintahan Malik Al-Saleh, datang seorang Musafir dari Venesia bernama Marco
Polo yang menceritakan perkembangan Islam serta perdagangan di Perlak dan
Samudra Pasai. Selanjutnya tahun 1297, Sultan Malik al Saleh meninggal dunia
yang dibuktikan dengan batu nisan di Sungai Pasai berangka tahun 675 H atau
1297 M.
Pemerintahan
kerajaan Islam di Indonesia kedua ini, Samudra Pasai dilanjutkan oleh putranya
bernama Sultan Muhammad Malik al Tahir (Sulta Malik al Tahir) yang memerintah
tahun 1297 – 1326. Pada masa ini Perlak dipersatukan dengan Kerajaan Samudra
Pasai. Setelah Sultan Malik al Tahir wafat, ia digantikan oleh Sultan Ahmad
yang juga bergelar Malik al Tahur (Malik al Tahir II).
Pada masa
pemerintahan Malik al Tahir II (1326 – 1348), Samudra Pasai berkembang pesat.
Hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di India maupun Arab terus
dikembangkan. Pada masa itu, sultan merupakan penguasa tertinggi yang juga
seorang ulama yang dibantu patih yang bergelar amir.
Pengganti
Sultan Malik al Tahir II adalah Sultan Zainal Abidin (Sultan Malik al tahir
III) yang memerintah sekitar tahun 1350. Akhir dari pemerintahannya tidak
begitu jelas. Dalam sejarah Melayu diceritakan bahwa Kerajaan Samudra Pasai
diserang oleh tentara Majapahit, akan tetapi Samudra Pasai mendapat bantuan
dari Laksamana Cheng Ho dari China pada tahun 1405.
Laksamana
Cheng Ho adalah utusan Kaisar China untuk menjalin persahabatan dengan Sultan
Samudra Pasai. Namun kemerdekaan Kerajaan Samudra Pasai terenggut setelah pada
tahun 1521, Samudra Pasai diakuasai oleh Portugis.
Kehidupan Ekonomi Kerajaan Samudra Pasai
Dalam bidang
ekonomi Kerajaan Samudra Pasai digambarkan bahwa pada pemerintahan Malik al
Tahir II, Samudra Pasai menjadi pelabuhan tempat persinggahan kapal-kapal
dagang dari India (Gujarat), Arab, Persia, dan China.
Ibnu Batutah
seorang utusan Sultan Delhi yang singgah di Samudra Pasai dalam perjalanan ke
China pada tahun 1345, menceritakan bahwa perdagangan di Samudra Pasai semakin
ramai dan bertambah maju. Sultan mempunyai angkatan laut yang kuat sehingga
para pedagang merasa aman dan nyaman berdagang di Samudra Pasai.
Komoditas
yang paling utama di Samudra Pasai antara lain berupa lada, kapur barus, dan
emas.
Kehidupan sosial budaya Kerajaan Samudra Pasai
Kehidupan
sosial budaya di Kerajaan Samudra Pasai diatur dengan ketentuan-ketentuan
syariat Islam. Sedangkan hasil kebudayaan secara fisik tidak banyak yang
ditemukan.
Bentuk
bangunan yang cukup terkenal di Samudra Pasai misalnya batu nisan Sultan Malik
al Saleh dan Jirat dari putri Pasai yang bertuliskan huruf Arab dalam bentuk
kaligrafi yang sangat indah
Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam,
atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak
di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota
Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah.[1] Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai,dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.
Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.
Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser. Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1267 M. Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).
Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.
Kesultanan Pasai kembali bangkit di bawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah.
Armada Cheng Ho yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan Lambri (Lamuri) yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.[6]
Sekitar tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.
Pemerintahan
Lonceng Cakra Donya
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai
terletaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng
Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara.
Menurut ibn Batuthah yang menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai,
menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada
kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma
Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah
mengakibatkan kapal terbalik. Sehingga penamaan Lhokseumawe yang dapat bermaksud teluk yang airnya berputar-putar
kemungkinan berkaitan dengan ini.
Dalam struktur pemerintahan terdapat
istilah menteri,
syahbandar
dan kadi.
Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai
memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan penguasanya juga bergelar sultan.
Pada masa pemerintahan Sultan
Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak
telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah
seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad
Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama
Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain
al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir)
disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga
disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya
kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.
Perekonomian
Pasai merupakan kota dagang,
mengandalkan lada sebagai
komoditi andalannya, dalam catatan Ma Huan disebutkan 100 kati lada dijual
dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini
disebut Deureuham (dirham) yang dibuat 70% emas murni dengan berat 0.60 gram,
diameter 10 mm, mutu 17 karat.
Sementara masyarakat Pasai umumnya
telah menanam padi di
ladang, yang dipanen 2 kali setahun, serta memilki sapi perah untuk
menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2.5
meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari
bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun dengan rotan, dan di
atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan.
Agama
dan budaya
Islam merupakan
agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip
dengan Malaka, seperti bahasa, maupun
tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan
ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat
oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana
diceritakan dalam Sulalatus Salatin.
Akhir
pemerintahan
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan
Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara.
Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka
untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya
runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal
tahun 1521 yang
sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah
menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh. Daftar penguasa Pasai
Ni dia daftar
sultan yang pernah
|
No
|
Periode
|
Nama
Sultan atau Gelar
|
Catatan
dan peristiwa penting
|
|
1
|
1267 - 1297
|
Sultan Malik as-Saleh (Meurah Silu)
|
Pendiri Samudra Pasai
|
|
2
|
1297 - 1326
|
Koin emas mulai diperkenalkan
|
|
|
3
|
1326 - 133?
|
Sultan Ahmad I
|
|
|
4
|
133? - 1349
|
||
|
5
|
1349 - 1406
|
Sultan Zainal Abidin I
|
|
|
6
|
1406 - 1428
|
Masa kejayaan Samudra Pasai
|
|
|
7
|
1428 - 1438
|
||
|
8
|
1438 - 1462
|
Sultan Shalahuddin
|
|
|
9
|
1462 - 1464
|
Sultan Ahmad II
|
|
|
10
|
1464 - 1466
|
Sultan Abu Zaid Ahmad III
|
|
|
11
|
1466 - 1466
|
Sultan Ahmad IV
|
|
|
12
|
1466 - 1468
|
Sultan Mahmud
|
|
|
13
|
1468 - 1474
|
Sultan Zainal Abidin III
|
Digulingkan oleh saudaranya
|
|
14
|
1474 - 1495
|
Sultan Muhammad Syah II
|
|
|
15
|
1495 - 1495
|
Sultan Al-Kamil
|
|
|
16
|
1495 - 1506
|
Sultan Adlullah
|
|
|
17
|
1506 - 1507
|
Sultan Muhammad Syah III
|
Memiliki 2 makam
|
|
18
|
1507 - 1509
|
Sultan Abdullah
|
|
|
19
|
1509 - 1514
|
Sultan Ahmad V
|
Malaka jatuh ke tangan Portugis
|
|
20
|
1514 - 1517
|
Sultan Zainal Abidin IV
|
Warisan
sejarah
Penemuan makam
Sultan Malik as-Saleh yang bertarikh 696 H atau 1267 M, dirujuk oleh sejarahwan
sebagai tanda telah masuknya agama Islam
di Nusantara sekitar abad ke-13. Walau ada
pendapat bahwa kemungkinan Islam telah datang lebih awal dari itu. Hikayat
Raja-raja Pasai
memang penuh dengan mitos dan legenda namun deskripsi ceritanya telah membantu
dalam mengungkap sisi gelap sejarah akan keberadaan kerajaan ini. Kejayaan masa
lalu kerajaan ini telah menginspirasikan masyarakatnya untuk kembali
menggunakan nama pendiri kerajaan ini untuk Universitas
Malikussaleh
di Lhokseumawe.

Komentar
Posting Komentar